Antioksidan dan Peranannya Bagi
Kesehatan
Oleh: Nunuk Sunu
Satwara Winarti. MP (Widyaiswara -BBPP Ketindan Jatim)
Telah kita ketahui bersama bahwa kesehatan merupakan
hal terpenting dan utama dalam kehidupan manusia dibandingkan lainnya seperti
jabatan, kekuasaan, pangkat, ataupun kekayaan. Tanpa kesehatan yang optimal,
semuanya akan menjadi tidak bermakna, oleh karena itulah sehat dan bugar
merupakan dambaan setiap orang.
Studi epidemiologi menunjukkan ada kaitan erat antara
status kesehatan dan usia harapan hidup manusia dengan pola konsumsinya.
Masyarakat di daerah yang banyak mengkonsumsi protein, lemak, gula dan garam
misalnya, ternyata lebih banyak ditemukan sebagai penderita penyakit-penyakit
degeneratif dibandingkan masyarakat di wilayah yang banyak mengkonsumsi
karbohidrat, serat dan vitamin.
Negara dengan mayoritas penduduk berusia panjang
seperti Jepang, mengkonsumsi makanan yang kaya akan kacang-kacangan, sayur dan
buah serta berkebiasaan minum teh hijau. Masyarakat eskimo yang hidupnya tidak
lepas dari konsumsi ikan, jarang sekali ditemukan penderita penyakit jantung.
Kelompok mayarakat yang terbiasa mengkonsumsi susu fermentasi ternyata mempunyai rata-rata usia yang lebih panjang.
Peningkatan prevalensi penyakit degeneratif di
Indonesia, memotivasi para peneliti pangan dan gizi Indonesia untuk
mengeksplorasi senyawa-senyawa antioksidan yang berasal dari sumber alami.
Tingginya biodiversity kekayaan alam dan bahan-bahan indigenous
yang dianugrahkan oleh Tuhan kepada bangsa Indonesia, merupakan potensi yang
sangat berharga dan bermanfaat untuk kesehatan masyarakatnya.
Antioksidan dan sumber-sumbernya
Antioksidan didefinisikan sebagai senyawa yang dapat
menunda, memperlambat, mencegah proses
oksidasi lipid. Dalam arti khusus, antioksidan adalah zat yang dapat menunda
atau mencegah terjadinya reaksi antioksidasi radikal bebas dalam oksidasi lipid
(Kochhar dan Rossell, 1990).
Sumber-sumber antioksidan dapat dikelompokkan menjadi
dua kelompok, yaitu antioksidan sintetik (antioksidan yang diperoleh dari hasil
sintesa reaksi kimia) dan antioksidan alami (antioksidan hasil ekstraksi bahan
alami).
Beberapa contoh antioksidan sintetik yang diijinkan
penggunaanya untuk makanan dan penggunaannya telah sering digunakan, yaitu
butil hidroksi anisol (BHA), butil hidroksi toluen (BHT), propil galat,
tert-butil hidoksi quinon (TBHQ) dan tokoferol. Antioksidan-antioksidan
tersebut merupakan antioksidan alami yang diproduksi secara sintetis untuk tujuan
komersial.
Antioksidan alami di dalam makanan dapat berasal dari
(a) senyawa antioksidan yang sudah ada dari satu atau dua komponen makanan, (b)
senyawa antioksidan yang terbentuk dari reaksi-reaksi selama proses pengolahan,
(c) senyawa antioksidan yang diisolasi dari sumber alami dan ditambahkan ke
makanan sebagai bahan tambahan pangan (Pratt, 1992).
Senyawa antioksidan yang diisolasi dari sumber alami
adalah yang berasal dari tumbuhan. Kingdom tumbuhan, Angiosperm memiliki
kira-kira 250.000 sampai 300.000 spesies dan dari jumlah ini kurang lebih 400
spesies yang telah dikenal dapat menjadi bahan pangan manusia. Isolasi
antioksidan alami telah dilakukan dari tumbuhan yang dapat dimakan, tetapi
tidak selalu dari bagian yang dapat dimakan. Antioksidan alami tersebar di
beberapa bagian tanaman, seperti pada kayu, kulit kayu, akar, daun, buah,
bunga, biji dan serbuk sari (Pratt,1992).
Senyawa antioksidan alami tumbuhan umumnya adalah
senyawa fenolik atau polifenolik yang dapat berupa golongan flavonoid, turunan
asam sinamat, kumarin, tokoferol dan asam-asam organik polifungsional. Golongan
flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan meliputi flavon, flavonol,
isoflavon, kateksin, flavonol dan kalkon. Sementara turunan asam sinamat
meliputi asam kafeat, asam ferulat, asam klorogenat, dan lain-lain.
Jahe (Zingiber officinale Roscoe) biasa
digunakan sebagai bumbu atau obat tradisional. Komponen-komponen pedas
dari jahe seperti 6 gingerol dan 6-shogaol dikenal memiliki aktivitas
antioksidan yang cukup. Dari ekstrak jahe yang telah dibuang komponen
volatilnya dengan destilasi uap, maka dari fraksi non volatilnya setelah
pemurnian, ditemukan adanya empat senyawa turunan gingerol dan empat macam
diarilheptanoid yang memiliki aktivitas antioksidan kuat (Nakatani,1992).
Ada beberapa senyawa fenolik yang memiliki aktivitas
antioksidan telah berhasil diisolasi dari kedelai (Glycine max L.), salah
satunya adalah flavonoid. Flavonoid kedelai adalah unik dimana dari semua
flavonoid yang terisolasi dan teridentifikasi adalah isoflavon.
Mekanisme kerja antioksidan
Mekanisme kerja antioksidan memiliki dua fungsi.
Fungsi pertama merupakan fungsi utama dari antioksidan yaitu sebagai pemberi
atom hidrogen. Antioksidan (AH) yang mempunyai fungsi utama tersebut sering
disebut sebagai antioksidan primer. Senyawa ini dapat memberikan atom hidrogen
secara cepat ke radikal lipida (R*, ROO*) atau mengubahnya ke bentuk lebih
stabil, sementara turunan radikal antioksidan (A*) tersebut memiliki keadaan
lebih stabil dibanding radikal lipida.
Fungsi kedua merupakan fungsi sekunder antioksidan,
yaitu memperlambat laju autooksidasi dengan berbagai mekanisme diluar mekanisme
pemutusan rantai autooksidasi dengan pengubahan radikal lipida ke bentuk lebih
stabil (Gordon,1990).
Penambahan antioksidan (AH) primer dengan konsentrasi
rendah pada lipida dapat menghambat atau mencegah reaksi autooksidasi lemak dan
minyak. Penambahan tersebut dapat menghalangi reaksi oksidasi pada tahap
inisiasi maupun propagasi (Gambar 1). Radikal-radikal antioksidan (A*)
yang terbentuk pada reaksi tersebut relatif stabil dan tidak mempunyai cukup
energi untuk dapat bereaksi dengan molekul lipida lain membentuk radikal lipida
baru (Gordon, 1990).
Inisiasi : R* + AH ----------> RH + A*
Radikal lipida
Propagasi : ROO* + AH -------> ROOH + A*
Gambar 1. Reaksi Penghambatan antioksidan primer
terhadap radikal lipida (Gordon 1990)
Besar konsentrasi antioksidan yang ditambahkan dapat
berpengaruh pada laju oksidasi. Pada konsentrasi tinggi, aktivitas antioksidan
grup fenolik sering lenyap bahkan antioksidan tersebut menjadi prooksidan
(Gambar 2). Pengaruh jumlah konsentrasi pada laju oksidasi tergantung
pada struktur antioksidan, kondisi dan sampel yang akan diuji.
AH + O2
-----------> A* + HOO*
AH + ROOH ---------> RO* + H2O + A*
AH + ROOH ---------> RO* + H2O + A*
Gambar 2. Antioksidan bertindak sebagai prooksidan
pada konsentrasi tinggi (Gordon 1990)
Peranan antioksidan pada kesehatan
Proses penuaan dan penyakit degeneratif seperti kanker
kardiovaskuler, penyumbatan pembuluh darah yang meliputi hiperlipidemik,
aterosklerosis, stroke, dan tekanan darah tinggi serta terganggunya sistem imun
tubuh dapat disebabkan oleh stress oksidatif.
Stress oksidatif adalah keadaan tidak seimbangnya
jumlah oksidan dan prooksidan dalam tubuh. Pada kondisi ini, aktivitas molekul
radikal bebas atau reactive oxygen species (ROS) dapat menimbulkan
kerusakan seluler dan genetika. Kekurangan zat gizi dan adanya senyawa
xenobiotik dari makanan atau lingkungan yang terpolusi akan memperparah keadaan
tersebut.
Bila umumnya masyarakat Jepang atau beberapa
masyarakat Asia jarang mempunyai masalah dengan berbagai penyakit degeneratif,
hal ini disebabkan oleh menu sehat tradisionalnya yang kaya zat gizi dan
komponen bioaktif. Zat-zat ini mempunyai kemampuan sebagai antioksidan, yang
berperan penting dalam menghambat reaksi kimia oksidasi, yang dapat merusak
makromolekul dan dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan.
Antioksidan vs kardiovaskular dan kanker
Peran positif antioksidan terhadap penyakit kanker dan
kardiovaskuler (terutama yang diakibatkan oleh aterosklerosis/penyumbatan dan
penyempitan pembuluh darah) juga banyak diteliti. Antioksidan berperan dalam
melindungi lipoprotein densitas rendah (LDL) dan sangat rendah (VLDL) dari
reaksi oksidasi.
Pencegahan aterosklerosis ini dapat dilakukan dengan
menghambat oksidasi LDL menggunakan antioksidan yang banyak ditemukan pada
bahan pangan.
Adapun untuk kanker dan tumor banyak ilmuwan spesialis
setuju bahwa penyakit ini berawal dari mutasi gen atau DNA sel. Perubahan pada
mutasi gen dapat terjadi melalui mekanisme kesalahan replikasi dan kesalahan
genetika yang berkisar antara 10-15 %, atau faktor dari luar yang merubah
struktur DNA seperti virus, polusi, radiasi, dan senyawa xenobiotik dari
konsumsi pangan sebesar 80-85 %. Radikal bebas dan reaksi oksidasi berantai
yang dihasilkan jelas berperan pada proses mutasi ini. Dan resiko ini
sebenarnya dapat dikurangi dengan mengkonsumsi antioksidan dalam jumlah yang
cukup.
Kesimpulan
Hasil oksidasi lemak pada makanan ternyata mempunyai
dampak besar terhadap kesehatan manusia yang mengkonsumsinya. Pengetahuan
bagaimana cara pencegahan proses oksidasi ini sangat diperlukan, yang pada
gilirannya sangat bermanfaat pada pemeliharaan kesehatan setiap individu.
Pengetahuan berbagai jenis antioksidan yang ada di alam serta manfaatnya bagi
kesehatan tubuh sangat membantu kita dalam mengatur pola makan untuk
mendapatkan tubuh sehat dan bugar.
Berbagai kajian dan studi tentang antioksidan masih
perlu dilakukan mengingat manfaatnya yang besar bagi kesehatan. Bahan-bahan
alam dari laut seperti tumbuhan mikro alga dan hewan laut perlu di eksplorasi
karena kandungan bioaktifnya terutama antioksidan belum secara tuntas
dieksplorasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar